Hospitalisasi merupakan kondisi ketika anak harus menjalani perawatan dan terapi di lingkungan rumah sakit yang sering kali memicu kecemasan akibat lingkungan baru, prosedur medis, perpisahan dari orang tua, serta keterbatasan beraktivitas. Situasi tersebut dapat menimbulkan respon maladaptif pada anak, seperti rasa cemas dan takut. Terapi bermain clay sebagai bentuk constructive play menjadi salah satu intervensi yang dapat membantu anak mengekspresikan perasaan, meningkatkan motorik halus, serta memberikan efek relaksasi. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya menekankan kepada efek terapi bermain secara umum, sehingga penerapan terapi bermain clay diperlukan kajian untuk mengatasi kecemasan pada anak prasekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain studi kasus yang bertujuan untuk mengevaluasi respon kecemasan anak sebelum dan sesudah penerapan terapi bermain clay akibat hospitalisasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pemberian intervensi, dan pengukuran kecemasan menggunakan Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS). Empat anak usia prasekolah dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Intervensi diberikan selama tiga hari berturut-turut, masing-masing 15-20 menit. Dua anak (An. S dan An. A) menerima terapi bermain clay berbahan dasar foodgrade, sedangkan dua lainnya (An. M dan An. N) mendapatkan terapi bermain dasar berupa video edukatif dan bermain boneka. Hasil menunjukkan penurunan kecemasan signifikan pada anak yang menerima terapi bermain clay, dengan skor An. S dari 36 menjadi 14 dan An. A dari 38 menjadi 15 dengan kategori tidak ada kecemasan. Sebaliknya, anak yang tidak menerima terapi clay masih menunjukkan kecemasan ringan pada hari ketiga. Penulis menyarankan terapi bermain clay dapat diaplikasikan sebagai salah satu intervensi non-farmakologis untuk menurunkan kecemasan anak selama perawatan guna meningkatkan pelayanan keperawatan anak yang holistik.
Copyrights © 2026