Remaja akhir merupakan masa transisi yang ditandai dengan perubahan, salah satunya menstruasi. Berdasarkan studi pendahuluan, sebagian besar mahasiswa mengalami dismenore dengan intensitas sedang hingga berat dan disertai keluhan seperti mudah marah, cemas, dan perubahan suasana hati. Secara global, prevalensi dismenore pada remaja mencapai 74,5%, di Indonesia sebesar 64,25%, di Jawa Tengah 56%, dan di Kota Surakarta mencapai 89,8%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dismenore tidak hanya berdampak pada aspek fisik saja namun juga mempengaruhi kondisi psikologis seperti stres dan mood swing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan dismenore dengan tingkat stres dan mood swing pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan teknik purposive sampling sebanyak 106 responden. Instrumen yang digunakan meliputi VAS untuk tingkat nyeri, DASS-42 untuk tingkat stres, dan MFQ untuk mood swing, dengan analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan yang signifikan antara dismenore dengan tingkat stres (p=0,001; r=0,359) serta keterkaitan dismenore dengan mood swing (p=0,016; r=0,233). Dapat disimpulkan bahwa, dismenore berpotensi meningkatkan stres dan perubahan suasana hati akibat peningkatan hormon prostaglandin yang memicu kontraksi uterus serta ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesterone, yang berdampak pada respon fisiologis dan psikologis individu.
Copyrights © 2026