Latar Belakang: Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak kedua pada perempuan Indonesia. Provinsi Jawa Barat menempati urutan ketiga dengan sekitar 8.000 kasus setiap tahun. Penyakit ini berkembang cepat dan umumnya terdeteksi pada stadium lanjut akibat rendahnya kesadaran terhadap pemeriksaan deteksi dini. Cakupan pemeriksaan IVA pada tahun 2022 di Kota Bandung masih rendah, yaitu hanya 1,5%. Rendahnya kesadaran dan perilaku deteksi dini dipengaruhi oleh persepsi dan keyakinan WUS terhadap kanker leher rahim.Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi seluruh WUS di Puskesmas Garuda, dengan teknik accidental sampling, sample berjumlah 128 WUS, dan analisa data univariat dengan distribusi frekuensi.Hasil: 73,4% WUS memiliki perceived susceptibility rendah, 50,8% memiliki perceived severity sedang, 79,7% perceived benefit tinggi, 46,9% perceived barrier tinggi, 59,4% cues to action sedang, 71,1% memiliki self efficacy tinggi dalam melakukan pemeriksaan deteksi dini (IVA).Kesimpulan: Mayoritas WUS memiliki perceived benefit dan self efficacy tinggi terhadap pemeriksaan IVA, namun perceived susceptibility masih rendah dan hambatan yang dirasakan cukup tinggi sehingga sebagian besar WUS tidak melakukan deteksi dini kanker leher rahim.
Copyrights © 2025