Pesantren salaf merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang berperan penting dalam menjaga kontinuitas ilmu-ilmu keislaman klasik melalui metode pembelajaran khas seperti sorogan dan bandongan. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi era Society 5.0, pesantren salaf menghadapi tantangan dalam mempertahankan tradisi keilmuan sambil beradaptasi dengan transformasi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dari berbagai sumber ilmiah periode 2017–2025 yang membahas adaptasi pesantren terhadap teknologi modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa walaupun pesantren salaf sering dianggap tertinggal secara teknologi, ia justru memiliki keunggulan dalam melahirkan deep literacy—kemampuan membaca kritis, teliti, dan reflektif. Melalui prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah, pesantren salaf mengembangkan strategi adaptif berupa penguatan identitas tradisi keilmuan, selektivitas penggunaan teknologi, penguatan SDM, serta pembaruan kurikulum yang tetap berpijak pada kitab kuning. Pendekatan ini menjadikan pesantren salaf bukan sekadar lembaga pelestari tradisi, tetapi juga penjaga etika informasi dan pusat literasi keislaman di era digital.
Copyrights © 2025