Abstrak. Tradisi merupakan elemen penting yang mencerminkan nilai budaya dan identitas sosial. Budaya Sunda yang berkembang di Jawa Barat kaya akan nilai-nilai tersebut. Film Before, Now & Then (Nana) menjadi media pelestarian budaya dengan menampilkan kehidupan perempuan Sunda era 1960-an melalui simbol seperti pakaian, musik, lagu, gestur, dan bahasa. Penelitian ini menyoroti bagaimana tradisi Sunda direpresentasikan dalam film tersebut serta perannya dalam mendokumentasikan, melestarikan, dan menginterpretasikan budaya Sunda dalam konteks modern, dengan relevansi pada isu universal seperti cinta, trauma, dan perjuangan hidup. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis representasi budaya Sunda dalam film Before, Now & Then (Nana) menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes dengan fokus pada makna denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme, pendekatan kualitatif, serta metode pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sunda direpresentasikan melalui elemen budaya seperti kebaya, sanggul, gamelan, tarian Keurseus, dan bahasa Sunda yang tampil dalam aspek visual, audio, dan naratif. Representasi tersebut terbagi dalam dua kategori: (1) Tradisi Sunda dalam ranah domestik yang memperlihatkan peran perempuan melalui simbol kesopanan, kehalusan, dan ketundukan, serta (2) Tradisi Sunda dalam kehidupan sosial yang menampilkan struktur patriarki melalui norma adat, status sosial, dan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Abstract. Tradition is a key element that reflects cultural values and social identity. Sundanese culture, which developed in West Java, is rich in these values. The film Before, Now & Then (Nana) acts as a medium for cultural preservation by depicting the lives of Sundanese women in the 1960s through symbols such as clothing, music, songs, gestures, and language. This study explores how Sundanese traditions are represented in the film and their role in preserving and interpreting culture in a modern context, while relating to universal themes like love, trauma, and life struggles. The aim of this research is to analyze the representation of Sundanese culture in Before, Now & Then (Nana) using Roland Barthes’ semiotic theory, focusing on denotation, connotation, and myth. The study applies a constructivist paradigm, a qualitative approach, and data collection methods through observation, documentation, and literature review. Findings show that Sundanese traditions are represented through cultural elements such as kebaya, traditional buns, gamelan, Keurseus dance, and the Sundanese language, seen in visual, audio, and narrative aspects. These are divided into two categories: (1) domestic traditions highlighting women’s roles through modesty and obedience; and (2) social traditions reflecting patriarchy through customs, status, and gendered power relations.
Copyrights © 2025