Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas sistem kerja hybrid terhadap work–life balance (WLB) dan produktivitas karyawan generasi milenial pada perusahaan rintisan di Yogyakarta. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif–eksploratif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model Miles & Huberman (reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan). Hasil menunjukkan bahwa fleksibilitas ruang waktu dan task–location fit (memadankan jenis tugas dengan lokasi kerja) menjadi mekanisme kunci yang mendorong peningkatan fokus dan koordinasi, sehingga WLB dan produktivitas cenderung membaik. Namun, manfaat tersebut tidak merata: tantangan utama meliputi kaburnya batas kerja pribadi, disiplin diri saat WFH, koordinasi lintas lokasi, serta meeting overload. Efektivitas hybrid sangat dipengaruhi kesiapan sosio-teknis kebijakan dan pedoman kolaborasi yang jelas, infrastruktur digital andal, serta dukungan manajerial. Penelitian ini memberi kontribusi praktis berupa rekomendasi perancangan kebijakan hybrid yang berimbang antara fleksibilitas dan akuntabilitas hasil, serta kontribusi teoretis pada literatur HRM kontemporer di konteks ekonomi berkembang.
Copyrights © 2025