Transformasi pedagogis di abad ke-21 menuntut pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) beradaptasi dengan perkembangan literasi digital dan kebutuhan berpikir kritis yang semakin kompleks. Kurikulum tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan tata bahasa dan keterampilan berbahasa dasar; kurikulum juga harus menanamkan literasi digital, berpikir kritis, dan kemampuan untuk berpartisipasi secara etis dalam ekosistem digital global. Artikel konseptual ini mengembangkan model integratif yang menghubungkan literasi digital dan budaya berpikir kritis ke dalam desain kurikulum EFL modern. Melalui sintesis komprehensif teori multiliterasi, konstruktivisme, pendekatan pedagogi digital, dan studi empiris terkini, artikel ini menyajikan kerangka kerja konseptual yang memposisikan literasi digital (akses, evaluasi, kreasi, dan komunikasi digital) dan budaya berpikir kritis (analisis, evaluasi, refleksi, argumentasi) sebagai inti kurikulum EFL yang responsif terhadap tantangan abad ke-21. Temuan konseptual ini menyoroti kesenjangan penelitian dalam kurangnya integrasi sistemik kedua kompetensi ini ke dalam kurikulum EFL di banyak konteks negara berkembang, termasuk Indonesia. Integrasi budaya berpikir kritis ke dalam kurikulum EFL dan strategi pedagogis abad ke-21 merupakan dasar fundamental untuk menumbuhkan pembelajar yang reflektif, argumentatif, dan adaptif yang siap menghadapi tantangan global. Artikel ini merumuskan model konseptual, proposisi teoretis, implikasi pedagogis, dan arahan penelitian lebih lanjut yang dapat menjadi referensi bagi para pengembang kurikulum, peneliti ELT, dan praktisi pendidikan tinggi.
Copyrights © 2026