Gereja Anglikan memiliki pendekatan khas terhadap otoritas Kitab Suci yang berada di tengah antara tradisi Reformasi Protestan dan warisan historis Katolik. Perdebatan teologis sering muncul tentang apakah Anglikan lebih dekat dengan konsep Sola Scriptura yang menekankan Alkitab sebagai satu-satunya otoritas iman atau Prima Scriptura, yang menempatkan Kitab Suci sebagai otoritas utama tetapi tetap menghargai Tradisi Gereja dan akal budi. Melalui kajian dokumen resmi seperti The Thirty-Nine Articles dan Book of Common Prayer, serta pemikiran teolog Anglikan klasik dan kontemporer, penelitian ini berupaya menjelaskan posisi khas Anglikanisme dalam memahami otoritas Kitab Suci. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur, penelitian ini menganalisis sumber-sumber primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa Anglikan lebih condong pada Prima Scriptura: Alkitab tetap menjadi pusat, namun ditafsirkan dalam terang tradisi apostolik dan akal budi. Pendekatan ini memberi ruang bagi fleksibilitas hermeneutis sekaligus menjaga kontinuitas dengan iman Gereja mula-mula. Implikasinya terlihat dalam liturgi, pengajaran, pastoral, serta dialog ekumenis. Dengan demikian, Anglikanisme menunjukkan keseimbangan antara kesetiaan pada Kitab Suci dan keterbukaan terhadap dinamika teologi kontemporer.
Copyrights © 2026