Sari Pediatri
Vol 19, No 3 (2017)

Faktor Prediktor Dehisensi pada Neonatus dengan Pembedahan Abdominal

Lucy Pravitasari (PPDS Ilmu Kesehatan Anak Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)
Setya Wandita (Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Endy P. Prawirohartono (Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
12 Jan 2018

Abstract

Latar belakang. Dehisensi luka operasi merupakan komplikasi operasi yang jarang, tetapi sering menyebabkan kematian. Faktor risiko yang dilaporkan adalah usia kurang dari 1 tahun, gizi buruk, hipoalbuminemia, infeksi berat, insisi median, dan operasi yang bersifat darurat. Tujuan. Untuk mengetahui sepsis, anemia, hipoalbuminemia, trombositopenia, jenis kelamin laki-laki, operasi darurat, kurang bulan dan berat lahir rendah dapat digunakan sebagai prediktor dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal.Metode. Dilakukan penelitian kohort retrospektif dari data rekam medis pada 159 neonatus dengan pembedahan abdominal. Analisis dilakukan dengan menghitung angka kejadian dehisensi. Analisis bivariat digunakan untuk menentukan risiko relatif dan analisis multivariat digunakan metode regresi Cox untuk mengetahui hazard rasio berdasarkan waktu terjadinya dehisensi. Hasil. Angka kejadian dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal adalah 39/159 (24,5%) kasus. Rerata waktu kejadian adalah hari ke-11 (kisaran 5-28 hari) pascaoperasi. Rerata lama hari rawat pasien dengan dehisensi lebih panjang, yaitu 36 (5-96) dibandingkan dengan yang tidak dehisensi 21 (2-155) hari (p=0,001). Terdapat 28,2% 11/39 (28,2%) kasus dengan infeksi luka operasi dan angka kematian (9/39 (25%) kasus. Tidak didapatkan faktor prediktor yang bermakna untuk terjadinya dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal.Kesimpulan. Tidak didapatkan faktor prediktor yang bermakna untuk terjadinya dehisensi pada neonatus dengan pembedahan abdominal. Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih baik, yaitu secara prospektif dan mempertimbangkan faktor prediktor lain, seperti status gizi, penyakit penyerta (penyakit sistem respirasi, instabilitas hemodinamik) serta faktor intraoperatif (lama, jenis insisi dan jenis penutupan luka).

Copyrights © 2017