The garment industry in Indonesia is experiencing rapid growth due to increasing demand, including at Konveksi X in Bandung. However, Konveksi X faces challenges with long production completion times (makespan), which have led to decreased demand and revenue between October and March. This study employs a descriptive quantitative approach by applying the Tabu Search and Campbell-Dudek-Smith (CDS) algorithms to minimize makespan and improve production efficiency. Konveksi X utilizes four main machines: fabric cutting, screen printing/embroidery, sewing, and steam ironing. The initial makespan, using the First Come First Serve (FCFS) method with job order ABCD, was 17 days. The Tabu Search algorithm was applied through job swapping and the creation of a tabu list, while CDS used the Johnson’s Rule approach by comparing processing times over three iterations. Both algorithms successfully reduced the makespan to 16 days with the best job order ABDC. This resulted in an Efficiency Index of 1.06 and a Relative Error of 6.3%. This one-day reduction reflects increased production efficiency due to stable production structure and balanced job durations. Therefore, Tabu Search and CDS are recommended as more efficient scheduling alternatives compared to FCFS, especially for flow shop production systems that demand high efficiency. Industri garmen di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat seiring meningkatnya permintaan, termasuk Konveksi X di Kota Bandung. Namun, Konveksi X menghadapi masalah dalam waktu penyelesaian produksi (makespan) yang berdampak pada penurunan permintaan dan pendapatan selama Oktober hingga Maret. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menerapkan algoritma Tabu Search dan Campbell Dudek Smith (CDS) untuk meminimalkan makespan dan meningkatkan efisiensi produksi. Konveksi X menggunakan empat mesin utama: pemotong kain, sablon/bordir, jahit, dan setrika uap. Nilai makespan awal dengan metode First Come First Serve (FCFS) adalah 17 hari menggunakan urutan job ABCD. Algoritma Tabu Search diterapkan dengan metode pertukaran urutan (swap job) dan penyusunan tabu list. Sementara itu, CDS menggunakan pendekatan Johnson Rule dari hasil perbandingan waktu proses tiga iterasi. Hasilnya, kedua algoritma menghasilkan makespan lebih pendek, yaitu 16 hari dengan urutan job ABDC. Kedua algoritma ini menghasilkan nilai Efficiency Index 1,06 dan Relative Error sebesar 6,3%. Penurunan satu hari ini mencerminkan peningkatan efisiensi karena struktur produksi yang stabil dan proses yang merata. Dengan demikian, Tabu Search dan CDS direkomendasikan sebagai metode penjadwalan alternatif yang lebih efisien dibanding FCFS, terutama pada sistem flow shop.
Copyrights © 2025