Kehamilan pada remaja tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dengan dampak yang luas terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan sosial remaja putri. Faktor biologis tidak sepenuhnya menentukan fenomena ini; kondisi sosiobudaya dan ketidaksetaraan gender memiliki pengaruh yang kuat terhadapnya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak faktor sosiobudaya dan ketidaksetaraan gender terhadap kehamilan pada remaja menggunakan pendekatan studi kasus. Metode deskriptif kualitatif dengan desain laporan kasus digunakan, dengan fokus pada seorang remaja perempuan berusia 14 tahun yang mengalami persalinan pertamanya di rumah sakit rujukan. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan klinis, wawancara anamnesis, dan tinjauan catatan medis, dan dianalisis secara deskriptif dengan mengintegrasikan temuan klinis dengan latar belakang sosiobudaya pasien. Temuan menunjukkan bahwa praktik pernikahan dini, literasi kesehatan reproduksi yang terbatas, dan posisi tawar yang rendah dari remaja putri memainkan peran signifikan dalam terjadinya kehamilan remaja. Meskipun proses persalinan berlangsung tanpa komplikasi, konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial tetap signifikan. Kasus ini menunjukkan bahwa kehamilan remaja adalah fenomena multidimensional yang dibentuk oleh interaksi antara norma budaya, struktur keluarga, dan sistem kesehatan. Temuan ini menyoroti pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan sensitif secara budaya, peningkatan keterlibatan keluarga, serta pengembangan layanan kesehatan yang ramah remaja. Pendekatan lintas sektor dianggap esensial untuk menangani kehamilan remaja secara efektif dan mempromosikan perbaikan berkelanjutan dalam hasil kesehatan remaja. Teenage pregnancy remains a major public health issue with far-reaching implications for the physical, psychological, and social well-being of adolescent girls. Biological factors do not solely determine this phenomenon; sociocultural conditions and gender inequality strongly influence it. This study aims to analyze the impact of sociocultural and gender equality factors on teenage pregnancy using a case study approach. A qualitative descriptive method with a case report design was employed, focusing on a 14-year-old adolescent girl who experienced her first childbirth at a referral hospital. Data were collected through clinical examinations, anamnesis interviews, and medical record reviews, and were analyzed descriptively by integrating clinical findings with the patient's sociocultural background. The findings reveal that early marriage practices, limited reproductive health literacy, and the low bargaining position of adolescent girls play a significant role in the occurrence of teenage pregnancy. Although the delivery process was uncomplicated, the potential long-term consequences for health, education, and social well-being remain substantial. The case illustrates that teenage pregnancy is a multidimensional phenomenon shaped by the interaction of cultural norms, family structures, and healthcare systems. These findings highlight the need for comprehensive and culturally sensitive reproductive health education, strengthened family involvement, and the development of adolescent-friendly health services. A cross-sectoral approach is considered essential to address teenage pregnancy effectively and to promote sustainable improvements in adolescent health outcomes.
Copyrights © 2026