Di tengah gempuran modernisasi dan persaingan pasar global yang hiper-kompetitif, keberlanjutan Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik di Indonesia menghadapi tantangan multidimensi, mulai dari volatilitas harga bahan baku, regenerasi pengrajin, hingga disrupsi pasar digital. Literatur manajemen strategis konvensional seringkali menawarkan solusi berbasis efisiensi kompetitif yang mengabaikan modal sosial unik di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan teoretis tersebut dengan menganalisis bagaimana integrasi nilai-nilai Etika Bisnis Islam (EBI) dan kearifan lokal gotong royong membentuk model ketahanan ekonomi yang distingtif pada sentra industri batik. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode studi kasus ganda di Pekalongan dan Surakarta, penelitian ini mengeksplorasi praktik bisnis melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), dan observasi partisipatif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa gotong royong bukan sekadar residu tradisi, melainkan mekanisme operasional dari prinsip Ta’awun (tolong-menolong) dan Ukhuwah (persaudaraan) yang menekan biaya transaksi dan risiko pasar. Praktik sambatan (bantuan tenaga kerja resiprokal) dan konsorsium pembelian bahan baku informal terbukti menjadi manifestasi Adl (keadilan) yang menolak praktik monopoli (Ihtikar). Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan klaster batik tidak bertumpu pada kompetisi zero-sum game, melainkan pada "kompetisi kooperatif" yang didasari oleh Spiritual-Cultural Capital. Temuan ini memberikan implikasi manajerial bagi penguatan paguyuban berbasis nilai dan implikasi kebijakan bagi pemerintah untuk mengadopsi pendekatan kultural dalam pembinaan UMKM.
Copyrights © 2025