Penelitian ini mengkaji peran gereja, Romo (imam Katolik) dan umat Katolik dalam pemertahanan bahasa dan budaya Jawa dalam ranah kegerejaan, dengan menempatkan misa berbahasa Jawa sebagai ranah penggunaan bahasa (Fishman, 1965) dan wadah pembentukan register atau ‘enregisterment’ kombinasi semiotik yang mengindeks identitas Katolik Jawa (Agha, 2003). Tujuan utama riset ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana misa berbahasa Jawa dipertahankan dan mengapa hal ini terus dilakukan di tengah penurunan penggunaan bahasa Jawa, khususnya untuk generasi muda. Data penelitian diperoleh dari wawancara dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) bersama beberapa Romo serta umat di beberapa paroki urban di Yogyakarta. Temuan menunjukkan bahwa keberlangsungan misa berbahasa Jawa merupakan hasil investasi berbagai pihak – baik dari segi administratif, pelatihan, maupun penyediaan teks. Hal ini didasari kebijakan kelembagaan gereja yang didukung oleh komitmen filosofis untuk nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa dari berbagai pemangku kepentingan di lingkungan gereja. Kedua hal ini menegaskan pentingnya peran penutur bahasa dalam memelihara praktik kebahasaan yang mendukung pembentukan identitas kultural mereka.
Copyrights © 2026