Abstrak— Pengelolaan koneksi antara aplikasi backend dan object storage sering kali menghadapi tantangan efisiensi, terutama terkait latensi awal dan penggunaan sumber daya. Strategi default connection pool yang bersifat lazy initialization cenderung memicu cold start penalty yang tinggi, sedangkan strategi prewarm menawarkan kesiapan koneksi namun membutuhkan alokasi memori awal. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja kedua strategi tersebut dalam integrasi MinIO menggunakan bahasa pemrograman Go guna menentukan solusi paling optimal. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan melakukan performance testing menggunakan alat uji K6 melalui empat skenario beban kerja: cold start burst, gradual ramp-up, spike test, dan sustained high load. Metrik utama yang dianalisis meliputi latency, throughput, error rate, serta penggunaan CPU dan memori. Hasil pengujian menunjukkan bahwa strategi prewarm berhasil mengeliminasi cold start, menurunkan latency maksimal secara signifikan sebesar 72,2% (dari 20,69 detik menjadi 5,74 detik) dibandingkan strategi default. Selain itu, pada pengujian beban tinggi jangka panjang, strategi prewarm menunjukkan stabilitas sumber daya yang superior dengan penggunaan CPU yang stabil di kisaran 25%, berbeda dengan strategi default yang mengalami ketidakstabilan berupa lonjakan CPU hingga 70% dan memory creep. Berdasarkan hasil tersebut, strategi prewarm connection pool direkomendasikan untuk lingkungan produksi dengan traffic tinggi atau layanan yang membutuhkan ketersediaan instan.Kata Kunci— Connection Pool, Go, MinIO, Object Storage, Performance Testing, Prewarm.
Copyrights © 2026