Laki-laki dilaporkan lebih jarang mencari dan menggunakan layanan kesehatan mental, meskipun tingkat bunuh diri di kalangan kelompok ini tinggi secara global. Pria sering kali menahan emosi mereka karena ekspektasi sosial yang menuntut kekuatan, ketangguhan, dan pengendalian emosi, yang dapat menyebabkan toxic masculinity dan kesulitan mengenali atau mengekspresikan perasaan (alexithymia). Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara toxic masculinity dan alexithymia pada pria dewasa awal di Indonesia. Menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasi, penelitian ini melibatkan 349 pria dewasa awal di Indonesia sebagai responden. Pengumpulan data menggunakan Conformity to Masculine Norms Inventory-30 (CMNI-30) untuk mengukur toxic masculinity dan Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) untuk mengukur alexithymia. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi product-moment. Hasil menunjukkan bahwa pria dewasa awal berada pada tingkat sedang dalam hal toxic masculinity (70,5%) dan alexithymia (61%). Analisis statistik menggunakan SPSS versi 26 menunjukkan nilai korelasi 0,279 dan nilai signifikansi 0,005 (p < 0,05). Hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara toxic masculinity dan alexithymia di kalangan pria dewasa awal di Indonesia. Studi ini mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara toxic masculinity dan alexithymia di kalangan pria dewasa awal di Indonesia.
Copyrights © 2026