Keragaman agama di Indonesia dapat memperkaya identitas bangsa sekaligus menjadi potensi konflik sosial yang berulang apabila tidak dikelola dengan baik. Konflik sosial agama di berbagai daerah selama dua dekade terakhir, seperti pada kasus warga Desa Balinuraga dan Agom di Lampung Selatan, menunjukkan perlunya pendekatan ilmiah yang relevan dan kontekstual untuk memahami, memetakan, dan mencegah eskalasi konflik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model matematika Richardson agar lebih sesuai dengan karakteristik konflik sosial agama di Indonesia dengan mempertimbangkan intensitas, reaksi antar kelompok, serta peran pihak mediator. Penelitian dilakukan dengan mengadaptasi persamaan diferensial model klasik Richardson lalu memperluasnya menjadi model multi-kompartemen serta menambahkan variabel perilaku dan posisi strategis pihak mediator dalam struktur model. Model hasil pengembangan ini kemudian disimulasikan terhadap kasus Balinuraga–Agom dengan mengestimasi parameter-parameter konflik berdasarkan data empiris, seperti populasi terlibat, tingkat reaksi, pemicu konflik, dan tindakan pihak keamanan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa konflik antar kelompok dapat dianalisis secara kuantitatif untuk mengidentifikasi kecenderungan menuju stabilitas, eskalasi, atau perdamaian. Dalam kasus Balinuraga–Agom, model memprediksi bahwa jika tidak ada intervensi konstruktif maka tingkat kerawanan konflik tetap tinggi dan berpotensi berulang. Temuan ini mengindikasikan bahwa model matematika yang dikembangkan tidak hanya mampu merepresentasikan dinamika konflik secara lebih realistis tetapi juga menyediakan dasar analitis bagi penyusunan strategi intervensi yang lebih tepat sasaran. Model ini berpotensi menjadi alat bantu ilmiah dalam mitigasi konflik sosial agama di berbagai wilayah Indonesia.
Copyrights © 2026