Abstrak: Setiap orang pasti menginginkan rumah tangga yang langgeng. Dimana dalam rumah tangga itu selalu dihiasi rasa syukur sehingga membuahkan kebahagiaan dan keindahan. Pernikahan yang langgeng ini, tentu diawali dengan memilih pasangan yang tepat. Masalahnya, bagi para lajang, mereka tidak tahu apakah seseorang yang sedang dalam proses taaruf atau bahkan yang datang melamarnya merupakan sosok yang tepat atau bukan. Menjemput jodoh yang didambakan tentu bukan perkara mudah. Dan meski berikhtiar semampunya serta mengerjakan shalat Istikharah secara istiqamah sudah dikerjakan, boleh jadi harapan untuk menemukan jodoh itu belum menjelma sebuah kenyataan. Kita masih diharuskan bersabar dan berprasangka baik pada Allah. Bagaimanapun Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita ketimbang diri kita sendiri. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hasil istikharah yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan ini karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain adanya mimpi terdapat sebuah gembok yang didalamnya ada kunci yang sudah karat, dan berupa ular yang mau melilit dan menggigit, pemahaman keagamaannya berdasarkan norma yang didasari keyakinan yang dianut dan bergantung pada apa yang disampaikan oleh guru maupun ulama yang dipatuhi, pada dasarnya hasil Istikharah dalam menolak suatu lamaran tersebut belum tentu melanggar aturan Islam dan merupakan usaha calon wali pengantin dalam mencarikan pendamping yang baik menurut petunjuk Allah Swt dan istikharah merupakan anjuran dari Nabi Muhammad saw yang hukumnya sunnah Mu’akad yang sedang melakukan hajat, akan tetapi apabila hal tersebut mendatangkan kemudharatan yang lebih besar dan mendesak melakukan sebuah perzinahan, maka hal tersebut tidak diperbolehkan sebagai pertimbangan. Sejalan dengan kesimpulan di atas, istikharah bukanlah sebuah hal yang wajib yang harus dipatuhi atau dituruti karena berdasarkan mimpi yang belum terjadi kemudian hari, karena hal tersebuat semua amal dan perbuatan dapat berubah dengan seizini Allah Swt, Karena syariat manusia memaksimalkan usaha dan doa dan Selain itu seharusnya sebagai anak harus mematuhi perintah orang tua, setipa orang tua akan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya sehingga Allah Swt juga meridhai dan tidak melanggar hukum yang telah Allah tetapkan. Kata Kunci: Problematika hasil istikharah, maqosid shari’ah. Abstract: Everyone aspires to a lasting marriage, one that is continuously adorned with gratitude, giving rise to happiness and harmony. Such a durable marital relationship ideally begins with choosing the right partner. The challenge, however, lies in the fact that unmarried individuals often cannot ascertain whether a person encountered during the taʿāruf process or a prospective suitor is truly the right match. Seeking one’s desired life partner is by no means an easy endeavor. Even after exerting one’s utmost efforts and consistently performing the Istikharah prayer, the hope of finding a suitable spouse may not immediately materialize. In such circumstances, individuals are required to remain patient and maintain positive trust in Allah, for He knows what is best for His servants better than they know themselves. The findings of this study indicate that the outcomes of Istikharah practices among the community in Pakong District, Pamekasan Regency, are influenced by several factors. These include symbolic dreams, such as a padlock containing a rusty key or visions of a snake attempting to coil and bite; religious understanding shaped by normative beliefs and adherence to the guidance of respected teachers or ulama; and the interpretation that, in essence, decisions based on Istikharah to decline a marriage proposal do not necessarily violate Islamic law. Rather, they represent an effort by prospective guardians to seek a suitable spouse for the bride in accordance with divine guidance. Istikharah itself is a practice recommended by the Prophet Muhammad (peace be upon him) and is categorized as a sunnah mu’akkadah for those facing important matters. However, if reliance on such considerations leads to greater harm or creates an urgent risk of illicit relations (zina), it should not be used as a determining factor. In line with these conclusions, Istikharah should not be regarded as an obligatory directive that must be strictly followed based solely on dreams whose implications have yet to manifest. All deeds and circumstances may change by the permission of Allah. Islamic teachings emphasize the importance of maximizing effort and supplication, while also underscoring the obligation of children to obey their parents. Parents invariably seek the best for their children, and such obedience is a means of attaining the pleasure of Allah without transgressing the laws He has ordained. Keywords: Problems of istikharah results, maqashid syari'ah.
Copyrights © 2026