Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana konstruksi identitas maskulinitas terbentuk melalui kebiasaan merokok di kalangan siswa laki-laki MTs Ma’arif NU Kedungkendo dan factor factor apa sjaa yang memegaruhi terbentuknya identitas maskulinitas. Fenomena merokok pada remaja, terutama pelajar sekolah menengah pertama, tidak dapat dipahami hanya sebagai perilaku menyimpang atau masalah kesehatan semata, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial yang kompleks. Budaya patriarkal, maskulinitas sering dimaknai sebagai keberanian, kemandirian, dan kedewasaan, yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk perilaku merokok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan merujuk pada teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann melalui proses internalisasi, objektivasi, dan eksternalisasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa merokok digunakan oleh pelajar laki-laki sebagai simbol untuk menunjukkan identitas sebagai “laki-laki sejati”. Pengaruh lingkungan, terutama dari keluarga yang permisif atau memberi teladan buruk, teman sebaya yang menjadi referensi utama dalam pergaulan, serta lemahnya kontrol dari pihak sekolah, menjadi faktor dominan dalam membentuk perilaku merokok tersebut. Di sisi lain, media sosial seperti TikTok dan YouTube turut memperkuat citra bahwa laki-laki yang merokok terlihat lebih keren, dewasa, dan maskulin. Hal ini mengindikasikan bahwa konstruksi identitas maskulin pada pelajar tidak muncul secara alamiah, tetapi dibentuk dan dipelihara melalui interaksi sosial dan budaya yang ada di sekitar mereka. Penelitian ini merekomendasikan adanya pendekatan edukatif dan reflektif di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mendekonstruksi simbol-simbol maskulinitas yang merugikan serta membangun pemahaman baru tentang maskulinitas yang sehat dan konstruktif.
Copyrights © 2026