Kekerasan terhadap anak tetap menjadi isu kritis di Indonesia, dengan Jawa Barat secara konsisten melaporkan jumlah kasus yang tinggi. Studi ini meneliti faktor-faktor sosioekonomi yang memengaruhi jumlah kasus kekerasan terhadap anak di 27 kabupaten dan kota, dengan fokus pada tingkat kemiskinan, rata-rata tahun sekolah, tingkat perceraian, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (PFPR), dan Tingkat Pengangguran Terbuka (OUR). Tes diagnostik mengidentifikasi heterogenitas spasial dan overdispersi, yang mendukung penggunaan model Regresi Binomial Negatif Berbobot Geografis (GWNBR). Model GWNBR mengungguli model Poisson dan Binomial Negatif global, yang ditunjukkan oleh nilai Akaike Information Criterion (AIC) terendah sebesar 193,23, yang menunjukkan kemampuannya untuk menangani data hitungan spasial yang overdispersi. Hasil penelitian mengungkapkan variasi spasial yang substansial dalam pengaruh faktor-faktor sosioekonomi. Rata-rata tahun sekolah dan tingkat perceraian signifikan di sebagian besar wilayah, sementara Kota Bandung adalah satu-satunya wilayah di mana kelima prediktor tersebut signifikan. Temuan ini menunjukkan struktur risiko yang bervariasi secara geografis yang tidak dapat ditangkap oleh model global. Studi ini menyoroti pentingnya pemodelan adaptif spasial dalam analisis sosial dan demografis serta menyarankan agar karakteristik spesifik wilayah dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan. Temuan ini mendukung strategi perlindungan anak yang terarah dan selaras dengan SDG 3, SDG 4, dan SDG 16.
Copyrights © 2026