Laporan penelitian ini menyajikan tinjauan sistematis mengenai transformasi fundamental dalam lanskap serangan Social Engineering (Rekayasa Sosial), yang telah berevolusi dari teknik manipulasi psikologis konvensional berbasis teks menjadi operasi siber otonom yang digerakkan oleh Artificial Intelligence (AI). Memasuki periode strategis tahun 2026, ekosistem keamanan digital didominasi oleh konvergensi antara Generative AI, teknologi real-time Deepfake, dan kemunculan Agentic AI yang memiliki kapabilitas untuk melakukan pengintaian dan eksekusi serangan secara mandiri tanpa intervensi manusia. Studi ini secara mendalam menganalisis dua studi kasus representatif: insiden penipuan Deepfake CFO di Hong Kong yang mengakibatkan kerugian finansial masif sebesar US$25,6 juta, serta fenomena serangan Injection pada sistem verifikasi biometrik e-KYC perbankan di Asia Tenggara. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan literatur sistematis dan analisis studi kasus, penelitian ini mengidentifikasi bahwa metode pertahanan tradisional seperti verifikasi visual dan liveness detection pasif tidak lagi memadai. Penelitian ini mengusulkan adopsi kerangka kerja pertahanan adaptif PREDICT yang mengintegrasikan prinsip Zero Trust Architecture, deteksi liveness aktif multi-modal, dan harmonisasi kepatuhan terhadap regulasi UU PDP di Indonesia serta standar global seperti EU AI Act. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan strategi keamanan siber nasional di tengah eskalasi ancaman berbasis kecerdasan buatan
Copyrights © 2026