Pasca Revolusi Islam Iran tahun 1979, jumlah penganut syiah di Palembang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh pengikut syiah seperti perayaan Hari Asyuro, kegiatan majelis taklim dan pembacaan doa. Tulisan ini ingin melihat bagaimana dakwah dan penyebaran mazhab syiah di Palembang, khususnya melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan dalam majelis syiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk melihat realitas penyebaran mazhab syiah dan ajaran-ajarannya yang diterima masyarakat. Penelitian berkesimpulan bahwa, pertama; dakwah syiah di Palembang tidak dilakukan dalam bentuk yang formal, seperti ceramah umum tetapi melalui relasi social. Dalam relasi sosial ini peran keluarga menjadi faktor paling dominan yang membuat syiah diterima sebagai prinsip keagamaan (‘aqidah) dan ibadah (fiqih). Kedua, dakwah syiah tidak identik dengan keberadaan majelis syiah yang dibentuk sebagai wadah pemeluk syiah untuk melaksanakan ibadah dan memperkuat kesyiahan mereka kepada para imam. Ketiga, keberadaan majelis syiah di Palembang terjadi melalui tiga fase yaitu fase pertumbuhan, fase penguatan dan fase perubahan. Perkembangan majelis syiah pada tiap fase tersebut dipengaruhi oleh peran masing-masing tokoh, baik itu ulama, tenaga profesional atau orang biasa.
Copyrights © 2023