The Indonesian Journal of General Medicine
Vol. 30 No. 1 (2026): The Indonesian Journal of General Medicine

HUBUNGAN JUMLAH KUNJUNGAN TERAPI INJEKSI TRIAMSINOLON ASETONID DENGAN RESPONS KLINIS KELOID: STUDI RETROSPEKTIF ANALITIK DI RSUD SUMBAWA

Ketut Kwartantaya Winaya (Unknown)
Ida Ayu Agung Kirana Komalasari (Unknown)



Article Info

Publish Date
20 Feb 2026

Abstract

Pendahuluan: Keloid merupakan kelainan penyembuhan luka yang ditandai dengan proliferasi jaringan fibrosa yang melampaui batas luka asli. Kondisi ini sering kali menimbulkan keluhan subjektif berupa gatal, nyeri, serta gangguan kosmetik yang signifikan. Terapi standar yang paling efektif dan umum digunakan adalah injeksi kortikosteroid intralesi, khususnya triamsinolon asetonid. Efektivitas terapi ini sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani serangkaian kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi kunjungan terapi dengan perkembangan respons klinis pada pasien keloid di RSUD Sumbawa. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain retrospektif analitik dengan mengambil data dari rekam medis pasien rawat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Sumbawa periode 2024-2025. Data mencakup 415 baris kunjungan yang dianalisis untuk mengidentifikasi profil demografis, pola kunjungan, diagnosis utama (ICD-10), dan diagnosis tambahan sebagai indikator respons klinis atau efek samping. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitik untuk melihat keterkaitan jumlah sesi injeksi dengan stabilitas kondisi lesi. Hasil Penelitian: Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas pasien ( > 95%) didiagnosis dengan hypertrophic scar atau keloid (L91.0). Terdapat variasi jumlah kunjungan yang lebar, mulai dari kunjungan tunggal hingga 14 kali kunjungan per pasien. Pasien dengan jumlah kunjungan yang lebih banyak ( > 6 kali) menunjukkan kecenderungan adanya diagnosis tambahan seperti hiperpigmentasi pasca-inflamasi (L81.0) dan xerosis kutis (L85.3), yang menandakan adanya respons kronis terhadap terapi. Sebagian besar pasien ( > 96%) menggunakan jaminan kesehatan BPJS, yang secara signifikan mendukung retensi kunjungan pasien. Diskusi: Injeksi triamsinolon asetonid bekerja dengan menekan mediator inflamasi dan menghambat aktivitas fibroblas. Frekuensi kunjungan yang rutin memungkinkan akumulasi efek farmakologis yang stabil untuk mendegradasi kolagen tipe I dan III. Di RSUD Sumbawa, ketersediaan dokter spesialis kulit dan kelamin (dr. YT, Sp.D.V.E) telah meningkatkan aksesibilitas layanan ini bagi masyarakat lokal, mengurangi angka rujukan ke luar daerah, dan memungkinkan manajemen kasus yang lebih komprehensif. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang erat antara jumlah kunjungan dengan respons klinis keloid. Pasien dengan kunjungan rutin memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai perataan lesi yang stabil dibandingkan pasien dengan kunjungan sporadis. Dukungan sistem pembiayaan kesehatan seperti BPJS sangat krusial dalam menjamin keberlangsungan terapi jangka panjang ini.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

ijgm

Publisher

Subject

Dentistry Health Professions Medicine & Pharmacology Public Health Veterinary

Description

ims: The Indonesian Journal of General Medicine aims to advance the field of medicine by disseminating high-quality research findings that are accessible to a broad audience of healthcare professionals, researchers, and policymakers. The journal is committed to supporting the development of medical ...