Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran keluarga dalam mempertahankan bahasa daerah Gorontalo, strategi yang digunakan, kendala yang dihadapi, tingkat penggunaan bahasa daerah oleh anak muda, serta bentuk dukungan dari lingkungan sosial, tokoh adat, dan pendidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas keluarga, tokoh adat, pendidik, dan anak muda di Desa Longalo. Data dianalisis menggunakan teori Struktural Fungsional Talcott Parsons melalui konsep AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency) untuk memahami fungsi sosial setiap peran dalam upaya pelestarian bahasa daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran keluarga dalam mempertahankan bahasa daerah masih ada, namun terbatas pada aktivitas sederhana seperti bercerita dan memberi nasihat menggunakan bahasa Gorontalo. Strategi yang digunakan bersifat alami dan belum terstruktur. Kendala utama yang dihadapi meliputi rendahnya minat anak muda, dominasi penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, serta tidak adanya pembelajaran bahasa daerah yang sistematis di lingkungan keluarga. Tingkat penggunaan bahasa Gorontalo oleh anak muda tergolong rendah, dengan sebagian hanya memahami secara pasif dan sebagian lainnya tidak memahami sama sekali. Dukungan dari lingkungan sosial, tokoh adat, dan pendidik dilakukan melalui kegiatan budaya dan kebijakan sekolah, namun dampaknya terhadap penggunaan aktif bahasa masih terbatas. Analisis AGIL menunjukkan bahwa fungsi Integration dan Latency paling dominan, sehingga pelestarian bahasa daerah memerlukan kolaborasi antara keluarga, lingkungan sosial, tokoh adat, pendidik, dan pemerintah agar berkelanjutan.
Copyrights © 2026