Struktur modal mencerminkan kebijakan perusahaan dalam mengelola sumber pendanaan melalui keseimbangan antara penggunaan utang dan modal sendiri guna menjaga stabilitas keuangan dan keberlangsungan usaha. Struktur modal yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko keuangan dan menurunkan nilai perusahaan, terutama pada periode ketidakpastian ekonomi seperti masa pandemi Covid-19 dan masa pemulihan setelahnya. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor internal dalam menentukan struktur modal yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan, dan pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel penelitian terdiri dari 37 perusahaan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah diaudit. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS setelah memenuhi uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas dan likuiditas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal, yang mengindikasikan bahwa perusahaan dengan tingkat laba dan likuiditas tinggi cenderung menggunakan pendanaan internal sehingga mengurangi penggunaan utang. Ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Sementara itu, pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa keputusan struktur modal pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman lebih dipengaruhi oleh kemampuan internal perusahaan dan kebutuhan pendanaan untuk pertumbuhan, sehingga manajemen perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menetapkan kebijakan pendanaan yang optimal.
Copyrights © 2026