Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an kerap dipelajari untuk mendapatkan hikmah, namun narasi ini juga menyimpan makna ideologis yang tersembunyi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap narasi patriarki dan mekanisme control sosial terhadap Wanita dalam Q.S Yusuf ayat 25-29 menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes yang menguraikan makna melalui tiga lapisan denotasi, konotasi dan mitos serta didukung oleh pembacaan kritis dari penafsir feminis seperti Asma Barlas dan Amina Wadud untuk memberikan sudut pandang yang berimbang. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa cerita ini secara sistematis membentuk mitos utama: “Perempuan adalah penggoda yang licik dan harus dikendalikan secara alami”. Mitos dibangun melalui beberapa mekanisme naratif, yakni dominasi narasi oleh pria yang mengecilkan suara Wanita, penggeneralisasi kesalahan seorang individu menjadi karakter kolektif melalui ucapan raja (al-Aziz) dan pembatasan Wanita ke dalam ruang domestik sebagai bentuk pengendalian sosial. Penelitian ini menyipulkan bahwa adanya narasi yang secara tidak langsung telah menjadi mitos yang hidup dalam masyarakat, di mana Perempuan dipandang sebagai sosok penggoda, sehingga mitos ini melegitimasi kontrol sosial yang memaksa Perempuan untuk tunduk pada otoritas laki-laki (suami) dan juga pembatasan hak bersuara serta kebebasan bergerak saat mengekspresikan ide-ide mereka untuk membeladiri. Kontribusi penting dari penelitian ini adalah mengatasi kekurangan dalam studi dengan menggunakan teori Barthes untuk mengungkap cara ideologi patriarki bekerja dalam teks religius. Dengan memetakan pembentukan mitos dan menjadikannya sebagai bahan diskusi dengan berbagai penafsiran, penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi struktur yang tersembunyi dalam pemahaman umum tentang kisah Yusuf, tetapi juga menyediakan pendekatan pembacaan yang lebih adil, sehingga teks suci dapat menjadi sumber pesan moral yang setara dengan semua gender.
Copyrights © 2026