This study aims to examine how Islamic content creators on social media, particularly TikTok and Instagram, face negative stigma and fulfill their social responsibilities as digital preachers. The research uses a descriptive qualitative approach with a case study method on the @betteryouthfoundation community, focusing on two key informants: Afkar Jauhara and Tria Nurul Risqiyah. Data were collected through social media content observation and in-depth interviews. The findings indicate that the stigma encountered includes negative comments related to personality, sincerity in preaching, and public judgment on the creator’s personal background. Both informants responded to these challenges with different strategies: passive confrontation and normalization. They also demonstrated strong social responsibility by consistently delivering Islamic values in a relevant and adaptive manner in the digital space. The study concludes that digital preaching can be effectively sustained with sincere intention, community support, and the ability to adapt to the dynamics of social media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konten kreator dakwah di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, menghadapi stigma negatif serta menunaikan tanggung jawab sosial mereka sebagai pendakwah digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada komunitas @betteryouthfoundation, dengan dua narasumber utama yaitu Afkar Jauhara dan Tria Nurul Risqiyah. Data diperoleh melalui observasi konten media sosial dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk stigma yang dihadapi meliputi komentar negatif terkait kepribadian, niat dakwah, dan penilaian publik terhadap tampilan atau latar belakang narasumber. Kedua narasumber mampu menghadapi stigma tersebut dengan strategi berbeda: konfrontasi pasif dan normalisasi. Keduanya juga menunjukkan bentuk tanggung jawab sosial yang kuat melalui konsistensi dalam menyampaikan nilai-nilai Islam secara relevan dan adaptif di ruang digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah digital dapat terus berlangsung dengan efektif ketika dilakukan dengan keteguhan niat, dukungan komunitas, dan kemampuan adaptasi terhadap dinamika media sosial.
Copyrights © 2025