Penelitian ini menganalisis strategi penanganan dampak psikologis dan perbaikan tata ruang wilayah rawan bencana gempa bumi di permukiman padat, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kawasan ini sangat rentan terhadap gempa bumi akibat letaknya di zona subduksi aktif, sebagaimana terbukti pada peristiwa gempa 27 Mei 2006 yang menimbulkan kerusakan fisik, sosial, dan psikologis yang luas. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur, analisis dokumen kebijakan tata ruang, serta pemetaan zona rawan menggunakan software ArcMap 10.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak psikologis gempa sangat signifikan, meliputi stres akut, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), gangguan kecemasan, serta penurunan fungsi sosial dan kognitif masyarakat. Permasalahan tata ruang, seperti tingginya kepadatan bangunan tanpa jalur evakuasi dan minimnya ruang terbuka hijau, memperparah risiko korban jiwa dan menghambat proses pemulihan psikologis. Strategi penanganan yang efektif harus mengintegrasikan penguatan resiliensi psikologis berbasis komunitas, pemanfaatan nilai budaya lokal, serta penataan ruang yang adaptif terhadap risiko bencana. Kolaborasi lintas sektor, edukasi kebencanaan, dan optimalisasi ruang terbuka hijau direkomendasikan untuk mendukung pemulihan dan mencegah dampak serupa di masa depan. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara aspek psikologis dan tata ruang dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana
Copyrights © 2026