Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya proses destination branding dalam pengembangan destinasi wisata berbasis budaya dan sejarah, seperti halnya Kampung Wisata Pakualaman di Yogyakarta. Dalam konteks persaingan industri yang semakin ketat dan tren digitalisasi pariwisata, upaya membangun citra destinasi yang kuat, konsisten, dan relevan menjadi kebutuhan strategis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui upaya-upaya destination branding yang dilakukan untuk menguatkan potensi di Kampung Wisata Pakualaman Yogyakarta berdasarkan perspektif Morgan dan Pritchard. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Adapun teknik analisis data menurut Miles dan Huberman yang meliputi ; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa penguatan destination branding Kampung Wisata Pakualaman Yogyakarta telah berjalan dalam hal ini pada 5 tahapan : market investigation, analysis, and strategic recommendations,brand identity development, brand launch and introductions, brand implementations, dan monitoring, evaluating, and review. Akan tetapi secara keseluruhan memang belum berjalan dengan optimal. Kajian pasar belum dilakukan secara sistematis; identitas brand telah dirumuskan namun belum tersampaikan secara luas; peluncuran brand masih terbatas pada media sosial; implementasi brand tampak dalam atraksi wisata namun belum ditunjang oleh amenitas dan komunikasi yang konsisten; serta proses monitoring masih bersifat informal dan belum terstruktur. Sehingga ke depannya diharapkan perlu ada pengayaan model destination branding berbasis komunitas khususnya di kawasan budaya perkotaan. Hal ini juga dapat menjadi kajian implementatif untuk policy feedback oleh para pemangku kebijakan di Kota Yogyakarta.
Copyrights © 2025