Film Women from Rote Island berusaha memotret ketidakadilan yang dialami perempuan Adat Rote yang menjadi korban perdagangan manusia dan kekerasan seksual. Penelitian ini berusaha mengkaji bagaimana tokoh perempuan diposisikan dalam adegan yang menunjukkan perlawanan perempuan terhadap tradisi patriarkal. Penelitian berjenis kualitatif, menggunakan paradigma kritis dan metode analisis wacana model Sara Mills untuk melihat posisi subjek, objek dan penonton. Telaah pada 20 adegan menunjukkan bahwa tokoh utama perempuan dalam film secara dominan diposisikan sebagai subjek yang konsisiten melakukan perlawanan terhadap praktik objektifikasi dan domestikasi perempuan. Tokoh perempuan melakukan perlawanan dengan dua strategi. Pertama, dengan mendefinisikan kembali identitasnya di luar identitas yang dipaksakan tradisi patriarki. Mereka menolak menjadi objek seksual dan dibatasi ruang geraknya di ranah domestik melalui tradisi turun-temurun seperti belis perkawinan yang menanadai kepemilikan laki-laki atas perempuan. Kedua, dengan mengambil peran di wilayah publik. Selain mencoba berdaya secara ekonomi, mereka secara konsisten mengupayakan advokasi hukum bagi perempuan korban kekerasan seksual dan menolak penyelesaian damai secara adat. Tokoh laki-laki sebagai kelompok dominan dalam tradisi patriarkal dan kelompok berpengaruh seperti tetua adat dan aparat kepolisian diposisikan sebagai objek sekalipun mencoba resisten terhadap perlawanan tokoh utama perempuan. Penonton diposisikan untuk melihat kebenaran berdasarkan sudut pandang perempuan Adat Rote dan mendukung perlawanan yang dilakukan.
Copyrights © 2025