Perkembangan fisika inti dan teknologi kedokteran mendorong kemajuan radioterapi sebagai modalitas utama terapi kanker melalui pemanfaatan radiasi pengion untuk merusak DNA sel kanker. Optimalisasi terapi memerlukan pemahaman terpadu mengenai reaksi inti, peluruhan radioaktif, serta karakteristik energi radiasi yang memengaruhi deposisi dosis dan respons biologis jaringan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konsep dasar reaksi inti dan peluruhan radioaktif dalam produksi sumber radiasi medis, mengkaji hubungan jenis emisi, energi, dan waktu paruh dengan distribusi energi dalam jaringan, serta mengevaluasi implikasinya terhadap efektivitas terapi dan risiko efek samping. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan sintesis naratif terhadap sepuluh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dari PubMed, ScienceDirect, Scopus, dan Google Scholar. Analisis dilakukan menggunakan matriks sintesis untuk mengintegrasikan temuan terkait dosimetri, LET, dan radiobiologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada terapi proton, reaksi inti menghasilkan partikel sekunder seperti neutron yang berpotensi meningkatkan dampak biologis akibat nilai RBE yang tinggi, sementara peningkatan LET/RBE secara spasial berkorelasi dengan toksisitas jaringan normal. Pada radioterapi berbasis radionuklida, efektivitas dan keamanan sangat dipengaruhi oleh jenis emisi (α, β, γ), energi radiasi, serta waktu paruh isotop yang menentukan jangkauan dan durasi deposisi energi. Kemajuan teknologi seperti dual-energy CT serta inovasi produksi radioisotop melalui reaksi fotonuklir turut meningkatkan akurasi dosis dan ketersediaan isotop untuk terapi bertarget. Integrasi fisika inti, radiobiologi, dan teknologi klinis menjadi kunci radioterapi yang lebih presisi dan aman.
Copyrights © 2026