Difteri merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara dengan cakupan imunisasi rendah, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia sempat dinyatakan bebas difteri pada tahun 1990, kasus kembali meningkat sejak 2013 hingga saat ini. Di Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, peningkatan kasus dan kematian akibat difteri pada tahun 2024 menunjukkan perlunya sistem surveilans yang efektif sebagai upaya deteksi dini dan pengendalian penyakit. Permasalahan yang muncul mengindikasikan bahwa pelaksanaan sistem surveilans difteri di tingkat pelayanan kesehatan primer belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pelaksanaan komponen proses dalam sistem surveilans difteri oleh Puskesmas di Kota Padang tahun 2024 berdasarkan atribut surveilans serta mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan lokasi penelitian di lima Puskesmas yang memiliki kasus difteri dan Dinas Kesehatan Kota Padang. Informan dipilih secara purposive, meliputi pemegang program surveilans dan difteri, kepala Puskesmas, serta penderita difteri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan surveilans difteri belum sepenuhnya optimal pada seluruh atribut surveilans. Atribut kesederhanaan dan stabilitas telah tercapai, sedangkan fleksibilitas, akseptabilitas, kerepresentatifan, dan nilai prediktif positif masih kurang. Sensitivitas, ketepatan waktu, dan kualitas data juga belum optimal akibat keterlambatan penemuan kasus. Simpulan penelitian ini adalah bahwa penguatan proses surveilans difteri, terutama pada aspek sensitivitas, ketepatan waktu, dan kualitas data, sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sistem surveilans dalam mendukung kewaspadaan dini dan pengendalian difteri di Kota Padang.
Copyrights © 2026