Keterikatan kerja merupakan kondisi psikologis positif yang ditandai dengan semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan penyerapan (absorption) dalam pekerjaan, yang berperan vital dalam meningkatkan kinerja serta kesejahteraan pegawai di lingkungan birokrasi. Pegawai dengan keterikatan kerja tinggi cenderung menunjukkan antusiasme, komitmen kuat, serta ketahanan dalam menghadapi dinamika tuntutan pekerjaan publik yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam pengaruh kepemimpinan autentik dan modal psikologis terhadap keterikatan kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada sebuah instansi pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 70 orang responden melalui teknik sampling jenuh. Instrumen pengukuran menggunakan skala standar yang telah divalidasi, yaitu Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), Authentic Leadership Questionnaire (ALQ), dan Psychological Capital Questionnaire (PCQ-24). Data dianalisis menggunakan teknik regresi linear berganda setelah memenuhi syarat uji asumsi klasik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kepemimpinan autentik dan modal psikologis secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja dengan kontribusi sebesar 52,3%. Secara parsial, modal psikologis ditemukan memberikan kontribusi yang lebih dominan dibandingkan kepemimpinan autentik. Dimensi moral yang terinternalisasi serta dimensi harapan (hope) menunjukkan korelasi terkuat dalam membentuk keterikatan kerja. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan kepemimpinan yang transparan dan penguatan resiliensi psikologis guna menciptakan keterikatan kerja pegawai yang berkelanjutan di sektor publik.
Copyrights © 2026