Desa Jatilengger Kecamatan Ponggok merupakan desa yang mempunyai kawasan potensi wisata cukup baik, terutama dalam bidang ternak dan ketersediaan pertaniaan yang cukup melimpah. Hampir 80% penduduknya mempunyai pekerjaan sampingan sebagai ternak ayam potong, peternakan sapi, dan wiraswasta, sehingga hal tersebut mewarnai aktivitas masyarakat didalamnya. Disisi lain pengembangan wisata Kesambi Tress Park yang merupakan penakaran Rusa Maliran yang langka dan cukup orisinil. Namun sayangnya hingga saat ini belum ada program yang dapat berkesinambungan dengan potensi desa yang ada seperti pengorganisasian masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas wisata. Sebagai wujud nyata, penulis melakukan pendampingan serta pelatihan dalam pelaksanaan program Peningkatan Produktivitas Kelompok Wisata Melalui Penguatan Nilai Inovasi Produk Lokal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kelompok wisata di Desa Jatilengger melalui strategi pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada penguatan inovasi produk lokal. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Rapid Rural Appraisal (RRA) dengan tahapan transect walk, survei kuesioner terhadap 25 responden dari berbagai latar belakang pekerjaan, serta validasi data melalui Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 92% responden mengidentifikasi Penangkaran Rusa Maliran sebagai potensi unggulan desa yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, upaya pengembangan terkendala oleh rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia dan masalah internal pengelola. Sebagai solusi, mayoritas responden memprioritaskan kebutuhan pelatihan profesional dalam manajemen ekonomi wisata. Disimpulkan bahwa intervensi berupa peningkatan kapasitas SDM dan penguatan kelembagaan sangat krusial untuk mentransformasi potensi lokal menjadi aset ekonomi yang berkelanjutan dan mandiri.
Copyrights © 2025