AbstractBeksan Manunggal Jati diambil dari ide dan gagasan menyatunya Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman Yogyakarta. Dalam tari klasik gaya Yogyakarta terdapat beberapa macam bentuk sajian pertunjukan tari yang berbeda.Beksan Manunggal Jati ini merupakan jenis tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari putera dengan konsep bedhayan menjadi pijakan dalam karya tari ini. Menyatunya Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman dalam DIY mencerminkan semangat persatuan dan nasionalisme kedua kerajaan tradisional ini dalam mendukung berdirinya Indonesia sebagai negara merdeka. Secara kontekstual, aspek-aspek koreografis yang terdapat pada sajian beksanManunggal Jati ini memuat makna, nilai simbolik, dan filosofis tentang spiritual dan ajaran luhur kehidupan yang terkandung dalam lambang Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Beksan ini mengadaptasi beberapa esensi konsep bedhaya gaya Yogyakarta serta memunculkan idiom-idiom gerak baru dalam penyajiannya. Ciri kontekstual tari bedhaya terdapat pada makna yang terkandung didalam gerak tari, pola lantai, busana, tembang atau sekar yang terdapat pada iringan juga sebagai sarana penyampaian narasi cerita dalam bedhaya.
Copyrights © 2025