Latar Belakang: Kanker paru merupakan keganasan dengan angka insidensi dan mortalitas tertinggi di dunia. Meskipun usia dan jenis kelamin sering diidentifikasi sebagai faktor risiko utama, hasil penelitian di berbagai populasi masih menunjukkan variasi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian kanker paru di Rumah Sakit YARSI periode 2020–2025. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) retrospektif. Data bersumber dari rekam medis dan hasil pemeriksaan patologi anatomi pasien periode Januari 2020 hingga Agustus 2025. Sampel penelitian berjumlah 53 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan $p < 0,05$. Hasil: Dari 53 sampel yang dianalisis, sebanyak 62,3% (33 pasien) terdiagnosis kanker paru dan 37,7% (20 pasien) non-kanker paru. Karakteristik responden didominasi oleh laki-laki (66%). Proporsi kejadian kanker paru ditemukan lebih tinggi pada kelompok usia $\ge$ 55 tahun (64,7%) dibandingkan kelompok usia < 55 tahun (57,9%). Namun, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian kanker paru ($p = 0,624$) maupun antara jenis kelamin dengan kejadian kanker paru ($p = 0,901$). Pembahasan: Tidak adanya hubungan signifikan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa kanker paru merupakan penyakit multifaktorial. Faktor risiko lain seperti riwayat merokok, paparan polusi lingkungan/industri, serta kerentanan genetik diduga memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan sekadar faktor demografis usia dan jenis kelamin pada populasi ini. Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan angka kejadian kanker paru di Rumah Sakit YARSI periode 2020–2025. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel risiko yang lebih luas untuk memetakan determinan utama kanker paru.
Copyrights © 2026