Pemantauan radioaktivitas lingkungan melalui bahan pangan merupakan aspek penting dalam penilaian keamanan pangan dan perlindungan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat cemaran serta pola sebaran radionuklida buatan 137Cs dan 60Co pada buah belimbing dewa (Averrhoa carambola L.) di Kota Depok, salah satu komoditas hortikultura unggulan yang banyak dikonsumsi. Sampel belimbing dewa diambil dari lima kecamatan dan dianalisis menggunakan spektrometer gamma HPGe. Pengukuran dilakukan melalui dua tahap, yaitu analisis sampel kering dalam beaker Marinelli dan analisis ulang setelah proses pengabuan dalam wadah vial. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi tertinggi 137Cs terdapat di Kecamatan Pancoran Mas sebesar 1,706 ± 0,043 Bq/kg pada sampel segar dan 3,5 ± 0,097 Bq/kg pada sampel abu, sedangkan konsentrasi tertinggi 60Co ditemukan di Kecamatan Limo sebesar 1,287 ± 0,025 Bq/kg pada sampel segar dan 4,489 ± 0,161 Bq/kg pada sampel abu. Seluruh nilai konsentrasi yang terukur masih berada jauh di bawah batas maksimum cemaran radioaktif pangan yang ditetapkan oleh PERMENKES No. 1031 Tahun 2011 dan pedoman FAO/WHO. Pemanfaatan belimbing dewa sebagai bioindikator lokal radionuklida buatan di lingkungan perkotaan, serta pendekatan komparatif antara sampel segar dan sampel hasil pengabuan, meningkatkan sensitivitas deteksi radionuklida. Studi ini juga menyajikan peta sebaran spasial 137Cs dan 60Co di Kota Depok sebagai data dasar pemantauan radioaktivitas lingkungan berbasis pangan yang dapat dimanfaatkan dalam pemantauan radioaktivitas pangan di Indonesia.
Copyrights © 2025