Penelitian ini mengamati fenomena kesenjangan antar desentralisasi fiskal dan realisasi belanja modal yang belum optimal di pemerintah daerah. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis pengaruh kinerja keuangan daerah uang meliputi Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Derajat Desentralisasi, Efektivitas PAD, dan Efisiensi Keuangan Daerah, terhadap Belanja Modal. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian menganalisis data panel dari 7 kabupaten/kota di wilayah eks Keresidenan Pekalongan selama periode 2020-2024 (35 observasi). Melalui analisis regresi data panel dengan Random Effect Model (REM), penelitian menangkap temuan empiris yang paradoksal yaitu Rasio Derajat Desentralisasi berpengaruh negatif signifikan terhadap Belanja Modal, yang memberikan indikasi bahwa peningkatan kemandirian keuangan justru mendesak keluar (crowding out) Belanja Modal. Sebaliknya, Efektivitas PAD dan Efisiensi Keuangan Daerah ditemukan berpengaruh positif signifikan sebagai pendorong kapasitas Belanja Modal. Sementara itu, Pertumbuhan PAD tidak memiliki pengaruh signifikan, yang kemungkinan disebabkan oleh refocusing anggaran dalam pandemi COVID-19. Temuan ini mengimplikasikan adanya masalah keagenan (agency problem) dalam prioritas penganggaran dan diperlukan adanya pengendalian belanja operasional agar kemandirian fiskal di daerah memiliki dampak positif pada pembangunan publik.
Copyrights © 2026