Diskusi feminisme Islam dan terutama kaitannya dengan al-Qurʾān merupakan salah satu topik hangat yang terus menjadi ruang perdebatan. Beragam tawaran datang silih berganti, saling merevisi dan berkontestasi satu sama lain. Yang terbaru, Aksin Wijaya, seorang pemikir profilik sekaligus guru besar Ilmu al-Qurʾān dan Tafsir, ditemani dua rekannya, Ibn Muchlis, dan Dawam Multazamy Rohmatullah turut bersuara dengan menerbitkan buku dengan judul yang cukup provokatif; “Kritik Atas Penafsiran Al-Qur’an Feminis Muslim: Meninjau Ulang Keadilan Gender Al-Qur’an Menurut Feminis Muslim.” Buku ini, konon, sebagaimana tulisnya dalam pengantar, adalah kritik pertama dari kalangan pemikir kritis kepada rekan sejawat kritis yang lain—feminis muslim. Jika biasanya feminis liberal dikritik oleh tradisionalis yang tekstual, penulis yang memposisikan diri sebagai barisan pemikir beraliran kiri menghadirkan semacam otokritik kepada circle mereka.
Copyrights © 2025