Hipertensi termasuk ke dalam salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia. Penyakit ini menjadi penyebab utama komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke. Secara global, jumlah penyakit hipertensi diperkirakan akan terus meningkat hingga 1,5 miliar individu pada tahun 2025 dengan angka kematian sekitar 9,4 juta orang akibat hipertensi dan komplikasinya. Berdasarkan Riskesdas tahun 2023, angka prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 30,8%. Pengobatan hipertensi umumnya dilakukan secara rutin dan jangka panjang, sehingga membutuhkan ketersediaan obat yang stabil di fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk apotek. Ketidakterpenuhan stok obat dapat berdampak pada keberhasilan terapi pasien. Oleh karena itu, pengelolaan persediaan obat yang efektif sangat diperlukan agar tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan stok obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengelolaan obat antihipertensi di Apotek X pada bulan Februari 2025 menggunakan metode Safety stock dan Reorder point (ROP). Metode ini digunakan untuk menentukan jumlah cadangan pengaman sertatiti pemesanan ulang obat secara optimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa obat Amlodipine 5 mg memiliki nilai ROP tertinggi, yaitu sebesar 56 strip, sedangkan obat Ramipril 10 mg memiliki nilai ROP terendah, yaitu sebesar 13 tablet. Penerapan metode Safety stock dan ROP dapat membantu apotek dalam merencanakan pengadaan obat secara lebih efisien sehingga ketersediaan obat dapat terjaga dengan lebih optimal.
Copyrights © 2026