Penggunaan rokok elektrik atau vape menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada kalangan remaja di wilayah perkotaan. Produk ini sering dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional, sehingga menarik minat remaja untuk menggunakannya. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa aerosol yang dihasilkan rokok elektrik mengandung sejumlah zat kimia yang berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan rokok elektrik terhadap gangguan paru pada remaja di wilayah perkotaan melalui kajian literatur. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif sistematis. Pencarian artikel dilakukan melalui basis data Google Scholar dan Garuda dengan rentang tahun publikasi 2021–2026 menggunakan kombinasi kata kunci terkait rokok elektrik, remaja, dan gangguan paru. Berdasarkan proses seleksi sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh enam artikel penelitian yang dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik pada remaja berkaitan dengan berbagai keluhan gangguan pernapasan, seperti batuk kering, sesak napas, napas pendek, wheezing, nyeri dada, dan mudah lelah. Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian remaja mulai menggunakan rokok elektrik sejak usia dini dengan durasi penggunaan yang relatif lama sehingga berpotensi meningkatkan risiko gangguan fungsi paru. Faktor seperti rendahnya persepsi risiko kesehatan serta pengaruh lingkungan sosial turut memengaruhi perilaku penggunaan rokok elektrik pada remaja. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan guna meningkatkan kesadaran remaja terhadap dampak penggunaan rokok elektrik terhadap kesehatan paru.
Copyrights © 2026