Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik dari diabetes melitus yang berkontribusi besar terhadap peningkatan morbiditas dan risiko amputasi. Di Indonesia, prevalensi ulkus diabetikum terus meningkat seiring dengan buruknya kontrol glikemik pasien. Salah satu indikator penting dalam menilai kontrol glikemik adalah HbA1c, di mana kadar ≥7% menunjukkan kontrol yang tidak adekuat dan meningkatkan risiko komplikasi mikrovaskular, termasuk ulkus diabetikum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan derajat ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Waled. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional, memanfaatkan data sekunder dari rekam medis periode Januari 2022 hingga Mei 2024. Populasi penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus diabetikum yang menjalani rawat inap dan rawat jalan, dengan jumlah sampel sebanyak 141 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas adalah kadar HbA1c, sedangkan variabel terikat adalah derajat ulkus diabetikum berdasarkan klasifikasi Meggitt-Wagner classification. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kadar HbA1c kategori buruk (63,8%). Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kadar HbA1c dan derajat ulkus diabetikum (p=0,000) dengan kekuatan korelasi lemah dan arah positif (r=0,387). Disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar HbA1c, semakin berat derajat ulkus diabetikum pada pasien.
Copyrights © 2026