Dominasi iklan membentuk ketergantungan finansial televisi swasta bahkan porsi pendapatan iklan dapat melampaui 90% sehingga arah produksi konten kerap mengikuti logika pasar dan berisiko menggeser fungsi sosial media. Dalam konteks tersebut, DAAI TV menarik perhatian sebagai televisi yang menolak iklan dan membangun keberlanjutan melalui dukungan donasi/filantropi serta komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi DAAI TV terhadap praktik komodifikasi konten dan audiens, mengkaji strategi distribusi serta ekspansi dalam kerangka spasialisasi di era digital, serta menelaah peran struktur kelembagaan dan nilai ideologis dalam menopang keberlanjutan media tanpa iklan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-interpretatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipan, dan studi dokumentasi, serta penguatan kredibilitas data menggunakan triangulasi dan member check. Hasil menunjukkan bahwa DAAI TV meminimalkan logika komodifikasi dengan menempatkan audiens sebagai komunitas nilai, memproduksi konten bernuansa humanis, memperluas jangkauan melalui distribusi digital, dan menjaga konsistensi arah penyiaran melalui struktur organisasi serta ideologi lembaga. Kesimpulannya, keberlanjutan televisi tanpa iklan dapat dibangun melalui kombinasi pendanaan alternatif, tata kelola berbasis nilai, dan adaptasi spasialisasi digital tanpa harus tunduk pada tekanan komersialisasi.
Copyrights © 2026