Artikel ini membahas ritual Sirompak dalam kebudayaan Minangkabau melalui praktik film esai berbasis arsip. Alih-alih memverifikasi kebenaran ritual sebagai tradisi, tulisan ini membaca Sirompak sebagai narasi budaya yang berada di antara legitimasi tradisi dan pengalaman trauma yang tidak selalu terselesaikan. Film tidak melakukan proses produksi gambar baru, melainkan menyusun ulang arsip visual dan audio melalui strategi layering, fragmentasi, dan komposisi suara. Pendekatan ini memosisikan film esai sebagai cara berpikir visual yang menguji bagaimana ritual diproduksi, direpresentasikan, dan dipertontonkan dalam kebudayaan visual kontemporer. Analisis difokuskan pada tiga ranah: ritual sebagai tafsir visual, tubuh perempuan sebagai medan kerja mitos, serta ritual dalam logika tontonan. Hasil pembacaan menunjukkan bahwa film esai tidak menyelesaikan makna ritual, melainkan mempertahankan ketegangan antara tradisi dan trauma sebagai strategi kritis. Dengan demikian, artikel ini menempatkan film esai sebagai praktik artistik yang membuka ruang negosiasi ideologis atas representasi ritual.
Copyrights © 2026