Perdebatan antara film artistik dan film komersial selama ini cenderung dipahami sebagaioposisi biner antara otonomi seni dan logika pasar. Artikel ini menganalisis bagaimana film“Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” karya Imajinari mereposisi estetika artistik sebagai bentukhiburan dalam lanskap sinema Indonesia kontemporer. Melalui teori arena produksi budayaPierre Bourdieu, penelitian ini membaca film sebagai praktik kultural yang bernegosiasi dalammedan produksi film nasional. Metode yang digunakan adalah analisis semiotika John Fiskepada level realitas, representasi, dan ideologi untuk mengidentifikasi kode-kode estetika yangmembangun makna hiburan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini mengartikulasikanhiburan bukan sebagai spektakel, melainkan sebagai pengalaman reflektif yang dilegitimasimelalui strategi visual hitam-putih, ritme naratif kontemplatif, dan dialog metasinematik.Strategi tersebut menempatkan film dalam posisi ambivalen antara kutub otonom danheteronom, sehingga mengaburkan dikotomi artistik–komersial. Temuan ini menegaskanbahwa film tersebut tidak sekadar memadukan dua logika produksi, tetapi memproduksikonfigurasi ideologis baru tentang hiburan yang bermutu dalam arena sinema Indonesia.Kata kunci: Arena Produksi Budaya, Film Artistik, Ideologi Hiburan, Semiotika John Fiske,Sinema Indonesia Kontemporer
Copyrights © 2026