Peningkatan penggunaan antibiotik di sektor rumah tangga, peternakan, dan akuakultur di Indonesia telah menimbulkan tantangan sosial dan lingkungan jangka panjang bagi masyarakat di sekitar ekosistem perairan. Studi ini berfokus pada penilaian ketahanan sosial masyarakat dalam merespons dampak residu antibiotik dan resistensi antimikroba alami. Hasil analisis menunjukkan bahwa lemahnya koordinasi antar lembaga, rendahnya literasi lingkungan, dan keterbatasan akses terhadap infrastruktur adaptif menghambat kemampuan masyarakat untuk merespons secara efektif. Penilaian terhadap empat dimensi ketahanan social (learning, interest level, planning, dan ability to cope) menunjukkan kapasitas masyarakat masih rendah. Sebagian besar pelaku lokal, khususnya pembudidaya ikan dan rumah tangga kecil, belum memahami keterkaitan antara penggunaan antibiotik, kualitas air, dan kesehatan. Penguatan ketahanan sosial diperlukan melalui pendidikan partisipatif, kebijakan inklusif, serta inisiatif pemantauan berbasis komunitas. Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat sipil perlu diperkuat untuk mengintegrasikan pembelajaran sosial dalam tata kelola air. Melalui kerangka One Health Water Governance, dimensi sosial menjadi pusat dari ketahanan, memastikan pemberdayaan masyarakat, tanggung jawab bersama, dan perubahan perilaku sebagai pendorong utama dalam menghadapi resistensi anti mikroba di Indonesia.
Copyrights © 2026