Pelestarian dongeng tradisional Indonesia sebagai warisan budaya bangsa menghadapi tantangan di era digital, di mana minat anak-anak beralih dari media konvensional (seperti buku cetak dan narasi lisan) ke konten digital interaktif (seperti video on-demand dan permainan pada gawai). Penelitian ini mengkaji proses perancangan animasi 3D sebagai strategi adaptasi media untuk melestarikan dongeng 'Si Kancil dan Buaya' agar relevan bagi audiens anak usia 5-6 tahun. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, proses ini diawali dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara di TK Mambaul Ulum, Malang, yang mengidentifikasi preferensi audiens terhadap palet warna cerah, desain karakter sederhana, dan narasi yang didominasi visual daripada dialog. Data tersebut kemudian diimplementasikan dalam kerangka kerja produksi animasi yang sistematis (pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi) menggunakan perangkat lunak Blender. Hasil utama dari penelitian ini adalah sebuah short animation 3D yang efektivitasnya divalidasi melalui wawancara pasca-penayangan. Hasil validasi menunjukkan bahwa mayoritas anak (87%) mampu menceritakan kembali alur cerita dengan benar dan 73% berhasil mengidentifikasi pesan moral utama tentang kecerdikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa proses perancangan yang berpusat pada audiens tidak hanya menghasilkan produk media yang efektif, tetapi juga merumuskan sebuah model strategi pelestarian budaya yang dapat direplikasi untuk adaptasi warisan takbenda lainnya di era digital.
Copyrights © 2026