Kesadaran yang meningkat terhadap arsitektur hijau dan bangunan berkelanjutan telah mendorong penerapan prinsip tersebut pada fasilitas ibadah seperti masjid. Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan, Bandung, yang dirancang oleh arsitek Ridwan Kamil, merupakan contoh desain berkelanjutan melalui efisiensi energi, pencahayaan alami, dan ventilasi silang. Penelitian ini bertujuan menilai sejauh mana prinsip bangunan berkelanjutan diterapkan serta dampaknya terhadap pengalaman beribadah, dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan kenyamanan jamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan pengukuran empiris meliputi kenyamanan termal (suhu, kelembaban, kecepatan angin), pencahayaan (lux meter), dan kualitas akustik (sound level meter), serta survei persepsi pengguna melalui kuesioner kepada 52 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu siang hari di beberapa titik mencapai 29,6°C hingga 32°C yang melampaui ambang batas kenyamanan, namun 65,4% responden menyatakan merasa nyaman pada malam hari dan 50% menyatakan netral pada siang hari. Pencahayaan alami mencapai 328 lux di area mimbar, namun area saf belakang hanya 81 lux dan saf samping 32 lux sehingga masih terdapat ketimpangan distribusi cahaya. Kualitas akustik dinilai cukup namun masih memiliki tantangan berupa gema akibat material reflektif dan kebisingan dari luar. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan prinsip sustainable building di Masjid Al-Irsyad telah memberikan dampak positif terhadap pengalaman dan kenyamanan jamaah, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan seperti pengendalian suhu siang hari, perbaikan distribusi pencahayaan buatan, dan pengendalian kebisingan. Penambahan vegetasi dan penyempurnaan sistem ventilasi menjadi saran utama dari responden sejalan dengan prinsip arsitektur hijau yang menjadi landasan desain masjid ini
Copyrights © 2026