Artikel ini merefleksikan pergerakan wong cilik Jawa Tengah pada awal abad ke-20 dengan merujuk pada buku Zaman Bergerak karya Takashi Shiraishi. Fokus utama tulisan ini adalah menganalisis bagaimana kesadaran sosial-politik rakyat pribumi dapat tumbuh di bawah struktur kolonial Hindia Belanda yang menindas melalui organisasi Sarekat Islam sebagai ruang artikulasi kolektif. Artikel ini menunjukkan bahwa cara berpikir wong cilik pada masa itu masih dipengaruhi oleh apa yang disebut Tan Malaka sebagai ‘logika mistika’, yakni cara memahami realitas sosial melalui simbol, harapan keadilan, dan pengalaman hidup konkret, yang kerap dinilai secara negatif oleh pemikiran rasional-modern. Namun, alih-alih menjadi hambatan, ‘logika mistika’ justru menyediakan horizon makna yang memungkinkan wong cilik menafsirkan ketidakadilan kolonial dan meresponsnya secara kolektif. Pandangan tersebut membawa perubahan praksis sosial yang tercermin dalam sikap terhadap otoritas kolonial, relasi sosial, dan keberanian tampil di ruang publik. Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa pergerakan wong cilik tidak dapat dipahami semata-mata sebagai hasil rasionalisasi politik modern, melainkan sebagai proses historis yang berakar pada pengalaman penindasan dan cara berpikir khas rakyat pribumi. Untuk menganalisis penindasan kolonial tersebut, artikel ini menggunakan konsep bio-politik dan panoptikon dari Michel Foucault. Sementara untuk merefleksikan politik pembebasan yang dilakukan oleh wong cilik, artikel ini menggunakan konsep mesianisme Walter Benjamin.
Copyrights © 2026