Di bawah tantangan modernitas, wacana lingkungan belum sepenuhnya menjadi bagian integral dalam etis umat Islam. Padahal, ajaran Islam secara inheren mengandung prinsip-prinsip yang berakar pada hubungan harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam. Seyyed Hossein Nasr menghadirkan pemaknaan yang luas tentang tauhid dan hubungannya dengan tatanan kosmos dalam kerangka ekoteologi Islam. Dalam pandangan Nasr, tauhid bukan hanya doktrin teologis tentang keesaan Tuhan, tetapi juga menekankan prinsip kosmologis. Manusia, sebagai khalifah Allah di bumi memiliki tanggung jawab moral menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Nasr mengingatkan kembali struktur metafisik yang mengatur hubungan manusia dan alam. Tauhid dipahami sebagai poros yang menghubungkan antara Tuhan, kosmos, dan manusia, serta prinsip yang meneguhkan kesatuan makna dalam segala tingkatan wujud. Prinsip-prinsip seperti mizan (keseimbangan), amanah, dan khalifah dibaca ulang dalam horison tauhid kosmik. Gagasan Nasr membentuk etika lingkungan yang bukan sekadar pragmatis, melainkan juga berakar pada visi ontologis. Hal ini memberikan kerangka konseptual bagi pengembangan ekoteologi Islam kontemporer.
Copyrights © 2026