Pemantauan kelembaban tanah krusial untuk produktivitas kelapa sawit, sementara metode manual terbatas dan LoRaWAN menawarkan solusi efisien meski terkendala redaman sinyal di perkebunan. Penelitian ini menganalisis pengaruh free-space path loss pada skenario LOS dan obstruction loss akibat pohon kelapa sawit pada skenario NLOS terhadap kualitas transmisi data LoRaWAN, diukur melalui RSSI, SNR, dan packet loss pada sistem pemantauan kelembaban tanah. Sistem menggunakan modul LoRa RA-02 433MHz, mikrokontroler ESP32, dan sensor FC-28. Pengujian dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan dua skenario: LOS (tanpa halangan) dan NLOS (terhalang pohon kelapa sawit). Pada masing-masing skenario, pengukuran dilakukan pada jarak 16, 32, 48, dan 64 meter dengan 60 sampel per skenario, sehingga total delapan titik uji. Hasil menunjukkan packet loss 0% pada seluruh skenario. Pada LOS, RSSI menurun dari −80,57 dBm (16 m) menjadi −101,25 dBm (64 m) dan SNR dari 10,83 dB (16 m) menjadi 3,97 dB (64 m), selaras teori FSPL. Berdasarkan TIPHON, kualitas sinyal menurun dari sangat baik menjadi buruk (RSSI) dan dari bagus menjadi buruk (SNR). Pada NLOS, degradasi terbesar terjadi di 32 m dengan penurunan RSSI 13,51 dB; meski SNR mencapai −0,23 dB di 64 m, komunikasi tetap stabil. Kata kunci— LoRaWAN, Redaman Sinyal, RSSI, SNR, Packet Loss
Copyrights © 2026